Tipatipa, Jajanan Khas Batak Masih Eksis hingga Kini

MC – Toba, – Tipatipa, camilan khas suku Batak ini banyak dijual di toko, kios atau kedai sepanjang jalan Kota Balige, Silimbat hingga Porsea di Kabupaten Toba, Provinsi Sumatra Utara.

Berwarna putih kusam, bentuknya berupa beras yang ditumbuk hingga tipis, rasanya juga nyaris sama dengan beras yang digongseng.

Tipatipa terbuat dari padi yang sudah matang, proses pembuatannya tidak begitu rumit namun membutuhkan tenaga yang ekstra. Pertama-tama, padi yang sudah matang direndam hingga tiga hari, kemudian disaring untuk menghilangkan bagian padi yang kosong. Selanjutnya padi tersebut digongseng menggunakan bara api kayu hingga padi mengering dan mudah terkelupas.

Usai proses penggongsengan, padi kemudian ditumbuk di dalam lesung. Di sinilah proses pembuatan Tipatipa membutuhkan tenaga ekstra, karena selain mengupas kulit padi, beras yang dihasilkan juga harus ditumbuk sampai bentuknya menipis. Kemudian hasil tumbukan dibersihkan menggunakan tampi, dan selanjutnya siap dikemas untuk dipasarkan.

Di Desa Marom, Kecamatan Uluan, Toba masih ada beberapa kaum ibu yang menjadikan tipatipa sebagai penghasilan.

Salah satunya adalah Lince Napitupulu. Dia mengatakan, proses pembuatan Tipatipa biasanya dikerjakan secara berkelompok, terlebih saat proses menumbuk padi. “Biasanya langsung tiga orang yang numbuk kalau sudah digongseng, biar cepat,” ujarnya, Senin (6/9/2021).

Untuk proses pengemasan, Tipatipa disimpan di dalam kaleng toples yang kedap udara agar tidak masuk angin dan tahan lama. “Harganya Rp250 ribu satu kaleng. Terus dijual ke Porsea atau ke Balige,” lanjutnya.

Meski tidak lagi mengingat soal asal mula Tipatipa, namun Lince meyakini jika panganan ini adalah jajanan orang Batak terdahulu saat belum mengenal jajanan masa kini yang banyak diproduksi secara massal oleh pabrik.

“Ini biasanya dinikmati dengan mencampur sedikit gula sesuai selera, atau kelapa parut,” tutup dia.