Para Disabilitas di Toba Berharap Mampu Mandiri

MC – Toba, – Sebanyak 20 orang penyandang disabilitas di Toba sudah tergabung dalam Yayasan Cahaya Bersama Rakyat dan ingin mandiri. Mereka tidak mau meminta-minta atau berharap bantuan orang lain.

Keyakinan ini yang menggerakkan para disabilitas dan pemerhati disabilitas untuk membuat rumah produksi.

Saat ini keduapuluh penyandang disabilitas masih menghasilkan karya di sebuah rumah milik satu dari anggota yayasan tersebut.

“Kita berharap para penyandang disabilitas di Toba ini harus bisa mandiri, makanya kita semangati melalui wadah pembuatan karya pada rumah produksi nantinya. Ini kan masih awal, kita baru saja gagas ini tahun 2019,” ujar Badan Pendiri Yayasan Cahaya Bersama Rakyat Yosephine Saragih pada Kamis (5/8/2021).

Ternyata, yayasan ini bergerak di berbagai sektor; kesehatan, pertanian, pemberdayaan perempuan, perlindungan terhadap kaum perempuan dan anak, serta kegiatan sosial lainnya.

Yayasan yang sudah muncul sejak tahun 1992 ini dan kemudian memulai sesuatu yang baru di tahun 2019 di Toba akan mengupayakan mengumpulkan semua penyandang disabilitas di Toba.

Dari data yang pernah diidentifikasi oleh pihak Yayasan CBR ini, dari 9 kecamatan di Kabupaten Toba, terdapat 1.020 penyandang disabilitas.

“Kita kan sebelumnya sudah lakukan pendataan ke rumah-rumah di tiap kecamatan. Sejauh yang kita bisa data, dari 9 kecamatan di Toba ini ada 1020 orang penyandang disabilitas,” sebutnya

“Itu masih 9 kecamatan. Artinya masih banyak lagi kemungkinan yang penyandang disabilitas yang belum kita data. Ini yang mau kita bantu agar menjadi orang yang mandiri,” sambungnya.

Setelah berdiri sejak tahun 2019, para penyandang disabilitas sudah menghasilkan sejumlah karya, berupa souvenir bermotif ulos.

Pemerhati penyandang Disabilitas Hotlan Siagian, menambahkan ,baiknya kita sudah punya galeri.

“Di sanalah kita pamerkan apa yang menjadi hasil karya kita. Dulu, itu buat di Pasir Putih Porsea, namun karena angin kencang, tenda galeri kita hancur. Nah sekarang, kita sudah minta ke Bupati Toba agar menyediakan wadah gelery untuk kita,” sebut Hotlan.

Bagi mereka, perjuangan untuk mengembangkan memiliki tantangan yang amat besar, secara khusus pengadaan alat kerajinan tangan dan pendidikan para penyandang disabilitas.

“Dari hasil pengamatan kita, paran penyandang disabilitas ini kebanyakan tidak memiliki pendidikan yang standar. Padahal, mereka punya talenta yang luar biasa. Satu semangat bagi kita, mereka juga sama seperti kita yang harus berkembang,” pungkasnya.