Bertani Sayur di Toba Punya Prospek Meningkatkan Perekonomian Masyarakat

MC – Toba, – Mantan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Toba, Parlindungan Simanjuntak menilai sayur-sayuran sangat potensial dikembangkan di daerah Toba dan punya prospek meningkatkan perekonomian masyarakat.

Penilaian itu dikatakan karena struktur tanah dan iklim di Kabupaten Toba sangat mendukung, dan ketersediaan sayuran di Toba masih minus. Dalam arti produksi tanaman sayuran masyarakat yang ada saat ini tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar.

Parlindungan pun menceritakan hasil produksi tanaman sayur kangkung dan selada miliknya. Dia mengaku dari hasil tanaman sayurnya ia bisa menghasilkan Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari, dengan keuntungan 50 Persen.

Setiap hari dia bisa menjual sayur kangkung 80 ikat dikalikan Rp1.000 per ikat. Sayur selada 20 kilogram dikalikan Rp10.000.

“Bila dikalkulasi, hasil penjualan sayur kangkung mencapai Rp80 ribu, sayur selada Rp200 ribu, total Rp280 ribu per hari. Keuntungannya 50 Persen atau Rp140 ribu per hari,” terang Parlindungan  yang sudah pensiun dari PNS di Balige, Kamis (2/9/2021)

Dia melanjutkan, itu masih ditanam di polybag, karena dia tidak memiliki lahan. “Jadi bertani sayuran punya prospek meningkatkan perekonomian masyarakat,” katanya.

Pemerintah Kabupaten Toba diharapkan mau mengalokasikan anggaran untuk pengembangan tanaman sayuran di Kabupaten Toba. Dengan anggaran itu, lanjut Parlindungan, pemerintah bisa menyiapkan bibit sayurannya dan menyalurkannya kepada masyarakat untuk ditanam dan dikembangkan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Ketapang) Kabupaten Toba Marsarasi Simanjuntak mengaku tertarik dengan penjelasan itu.

Alhasil Marsarani berencana akan mengusahakan lahan miliknya dalam waktu dekat dan akan bertani sayur guna memotivasi masyarakat selain menambah pendapatannya.

Mengenai pemasarannya, Marsarasi mengatakan tidak sulit karena Kabupaten Toba masih minus ketersediaan sayuran.

“Selama ini 50 Persen sayuran masih didatangkan dari luar Kabupaten Toba, seperti dari Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara dan dari Kabupaten Simalungun. Ini terjadi akibat produksi sayuran lokal hanya mampu menyediakan 50 Persen dari kebutuhan masyarakat,” jelasnya.